Selasa, 18 September 2018

Diary story 2: Persiapan Bahasa Inggris untuk melanjutkan studi di US


Perjalananku untuk melanjutkan studi di US tidaklah mudah. Aku melalui serangkaian proses yang membuat capek hati dan pikiran. Dimulai dari placement test Bahasa Inggris di Jakarta. Kala itu, aku ditugaskan untuk mengikuti tes TOEFL dan IELTS (prediction) di kantor JIC. Tanpa persiapan, ikutlah aku mengerjakan section TOEFL dan IELTS.

Kalau ITP TOEFL aku pernah mengikuti tes sebelumnya. Dan skor ku memang rendah (paling tinggi 512, hahaha… gitu ngimpi mau sekolah ke US). Tapi setidaknya aku sudah pernah merasakan bagaimana rangkaian tes TOEFL tersebut. Kalau tes IELTS, seumur-umur aku belum pernah mengikuti. Bahkan tahu bagaimana gambaran tes nya saja belum pernah. Alhasil, dengan modal seadanya alias tanpa persiapan, aku mengikuti section listening, reading, writing, dan speaking dengan penuh cengah-cengoh (wkwkwkwkwk….).

Hasil tes keluar dua minggu kemudian, skor TOEFL ku 487 dan IELTS 4,5 (L3,5 R3,5 W5 S5,5). Kyaaa….. namanya juga tanpa belajar booo. Bodo amat dah. Kalau rezeki ngga bakal kemana. Dan benar saja, selang beberapa bulan dari tes tersebut, aku mendapat panggilan untuk kursus Bahasa Inggris di Jakarta selama dua bulan. Yang bikin ngga enak tuh ya, acaranya dimulai hari senin, dan aku baru terima undangannya itu hari jumat sore di minggu sebelumnya (dan harus konfirmasi sore itu juga. Whaaattt??? Minggu aku harus berangkat dong?!) OMG… Lumayan juga dari tempat kerjaku ke Jakarta itu ibaratnya seperti mau pergi ke luar angkasa. Yaah… beginilah ya kalua urusan administrasi di sebuah instansi. Penuh kejutan dan deadline.

Duuh… aku kan ada keluarga, masa iya aku ambil keputusan sendiri begini? Mana harus confirm segera. Aku langsung tanya ke suami, minta izin boleh apa tidak mengikuti kursus tersebut. Dua bulan itu lama lho… Apalagi aku ngga bakal bisa PP setiap hari, secara rumahku dari Jakarta itu sangat jauh. Aku bakal ninggalin suami dan anak-anak di rumah, dan itu sangat sulit bagiku. Dalam benakku, kalau suami tidak mengizinkan ya sudah.

Ternyata eh ternyata, suami memberikan izinnya. Tapi diusahakan aku pulang satu minggu sekali. Kebetulan kegiatannya dari hari Senin hingga Sabtu siang. Jadi aku bias pulang hari Sabtunya setelah kelas selesai. Oke baiklah…satu langkah sudah dilewati. Masih banyak cerita setelah ini… Stay tuned, ya.

Tidak ada komentar: