Pergi ke Amerika Serikat (US) adalah salah satu impianku
dari sejak SMA. Kala itu, ada pameran pendidikan di sekolah dan salah satu
partisipannya adalah agency pendidikan ke luar negeri. Aku banyak bertanya
tentang bagimana system Pendidikan di US. Entah mengapa US itu sangat menarik
perhatianku. Padahal, ibuku tidak pernah mengizinkan aku untuk melanjutkan
kuliah ke luar kota (bbwahahaha…). Jadi ya baru sekedar impian saja.
Ketika kuliah, aku pernah berkali-kali mendaftar beasiswa ke
US. Singkat cerita, tidak ada satupun seleksi yang lolos, padahal sudah sampai
tahap wawancara (hahaha…nasib dah). Sampai lulus kuliah pun impian itu hanya
sekedar impian. Sampai aku menikah, ku gantungkan impianku di pucuk pohon
cemara bersama burung kutilang yang berbunyi.
Setelah menikah, aku diterima bekerja di sebuah instansi pemerintah. Dan
lagi-lagi, kesempatan itu ada, tapi ada saja yang menghalangiku untuk pergi ke
luar negeri. Semakin lama, aku sudah tidak peduli dengan impian itu dan
menjalani hidup realistis. Kenyataannya, aku punya keluarga yang harus ku urus
disamping aku bekerja.
Nasib ternyata berubah. Hal yang selama ini aku impikan dan
sudah kubuang jauh entah ke mana, tiba-tiba datang dengan sendirinya. Aku
mendapatkan tawaran beasiswa untuk melanjutkan studi di luar negeri. Antara senang
dan bingung, karena mau tidak mau aku harus berangkat. Alamak…sekolah saja aku
belum tahu ke mana tujuannya. Belum lagi syarat bahasa yang begitu tinggi.
Ditambah otakku yang sudah beberapa tahun vakum dari kegiatan kuliah. Plus bagaimana
dengan keluargaku nanti? Haduuuh… Ini rezeki apa ujian sih yaa? Mungki
dua-duanya sih.
Banyak sekali yang harus aku lakukan. Mulai dari persiapan bahasa, mencari sekolah, dll. Di postingan
selanjutnya, aku akan berbagi cerita bagaimana aku menjalani langkah demi
langkah hingga aku menginjakkan kaki di US.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar